Oleh: Masyhuri Husin
Ketua Tanfidziah MWC NU Kecamatan Kebayoran Lama
Diskursus mengenai entitas Nahdlatul Ulama (NU) sering kali terjebak pada penyederhanaan yang ahistoris, salah satunya adalah pelabelan NU sekadar sebagai sebuah "kerumunan" (massa) dan bukan sebuah "gerakan". Secara sosiologis, kerumunan mengisyaratkan kumpulan manusia tanpa struktur, tanpa arah, dan digerakkan oleh reaktivitas sesaat. Menyematkan kata kerumunan pada NU jelas merupakan sebuah kekeliruan pembacaan.
NU sejatinya adalah sebuah gerakan (movement) yang bertumpu pada jaringan solidaritas sosial dan sanad keilmuan yang kuat. Meskipun demikian, harus diakui secara jujur bahwa sebagai sebuah gerakan, NU masih menyisakan berbagai kekurangan manajerial. Oleh karena itu, memasuki abad keduanya, diperlukan sebuah evaluasi mendalam untuk mengontrol arah perjalanan NU, serta merumuskan penyelesaian masalah (problem solving) terhadap berbagai tantangan kultural dan struktural yang membelenggunya.
Kesesatan Epistemologis: Mengapa NU dan Muhammadiyah Tidak Boleh Dibandingkan
Salah satu bias analitis yang sering muncul dalam menilai anatomi gerakan NU adalah kebiasaan membanding-bandingkannya dengan Muhammadiyah. Mengukur NU dengan kacamata Muhammadiyah, atau sebaliknya, adalah sebuah kesesatan metodologis. Terdapat beberapa alasan mendasar mengapa komparasi ini tidak tepat secara akademis maupun historis:
Pertama: Medan Dakwah yang Berbeda: Sejak awal berdirinya, kedua organisasi ini merespons realitas sosiologis yang berbeda. Wilayah garapan dakwah, demografi masyarakat, serta tantangan kultural yang dihadapi menuntut pendekatan yang sama sekali berlainan.
Kedua: Karakteristik Struktural: Bangunan hierarki dan relasi patron-klien di dalam kedua organisasi terbentuk dari rahim sejarah yang berbeda, sehingga menghasilkan bentuk struktur komando dan ketaatan yang berlainan.
Ketiga: Kultur Organisasi dan Tata Kelola: Pendekatan manajemen organisasi di Muhammadiyah yang cenderung kaku dan modernistik berbanding terbalik dengan kultur NU yang sangat cair, akomodatif, dan berbasis pada keluwesan pesantren.
Keempat: Latar Belakang Historis dan Metodologi Istinbath: Tradisi keilmuan NU bertumpu pada sanad pesantren dan metodologi istinbath hukum (pengambilan keputusan hukum) yang sangat terikat pada metodologi Turats (kitab kuning) dan madzahibul arba'ah (empat mazhab), yang secara fundamental memiliki tinjauan berbeda dengan tradisi intelektual Muhammadiyah.
Kesimpulan dari perbedaan tersebut sangat jelas: NU unggul dengan keunggulannya sendiri, dan Muhammadiyah unggul dengan keunggulannya sendiri. Keduanya adalah dua instrumen sosial dengan fungsi yang berbeda, namun memiliki tujuan akhir yang sama.
Dari Komparasi Menuju Sinergi: Menjadi Jangkar "Asia Kecil"
Narasi yang harus dibangun hari ini bukanlah tentang siapa yang lebih baik, melainkan bagaimana mensinergikan kekuatan keduanya. NU dan Muhammadiyah tidak boleh lagi diletakkan dalam arena kompetisi, melainkan diikat dalam sebuah sinergi strategis.
Kedua organisasi besar ini adalah jangkar kembar yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menguatkan fondasi Bangsa dan Negara Indonesia. Melalui orkestrasi yang tepat, keduanya merupakan modal sosial terbesar dalam membangun peradaban Islam di bentang geografis yang layaknya "Asia Kecil"—yakni Negeri Indonesia. Kombinasi antara kelenturan kultural NU dan kepiawaian tata kelola Muhammadiyah adalah kunci ketahanan bangsa dari berbagai benturan ideologi global.
Menatap Abad Kedua: Kepemimpinan Transformatif dan Kewibawaan Hadratus Syeikh
Sebagai konklusi, NU bukanlah sebuah kerumunan, melainkan sebuah Gerakan Raksasa yang saat ini sedang membutuhkan pembenahan internal yang serius. Energi kultural massa NU yang begitu besar harus diubah menjadi energi kinetik organisasi yang terukur.
Hal ini hanya bisa dicapai melalui figur kepemimpinan transformatif yang disegani. NU di abad kedua membutuhkan nahkoda yang mampu mereplikasi kepemimpinan Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy'ari. Sebuah model kepemimpinan yang tidak bertumpu pada kekuatan pragmatis, melainkan dibangun di atas tiga pilar utama: Kewibawaan Ilmu, Kemuliaan Akhlak (Perilaku), dan Kemurnian Niat berkhidmah untuk kemaslahatan umat. Hanya dengan kepemimpinan berkaliber seperti inilah, tata kelola struktural dan kultural NU dapat terbenahi, memastikannya melangkah mantap sebagai gerakan penjaga peradaban di abad kedua.
Wallahu A’lam Bis Shawab