Oleh: Al-Faqir Ahmad Rusdi
(Rois Syuriah MWC NU PANCORAN JAKARTA SELATAN)
Membangun Kader Berilmu, Berkhidmah, Berakhlak, dan Berintegritas
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله، والصلاة والسلام على سيدنا محمد رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن والاه.
Mukadimah
Menjadi kader Nahdlatul Ulama bukan sekadar memiliki KTA, mengenakan atribut organisasi, atau hadir dalam berbagai kegiatan ke-NU-an. Menjadi kader NU adalah kesediaan untuk belajar, berkhidmah, menjaga amanah, dan meneruskan perjuangan para ulama.
NU didirikan oleh para ulama bukan semata-mata agar menjadi organisasi yang besar, tetapi agar kebesarannya menghadirkan kemaslahatan bagi agama, umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Karena itu, tantangan kader NU hari ini bukan hanya:
Bagaimana membesarkan NU?
Tetapi lebih jauh:
Bagaimana menjaga kebesaran NU agar tetap bermartabat?
Sebab besar belum tentu bermartabat.
Banyak pengikut adalah kekuatan, tetapi ilmu, akhlak, amanah, dan kemanfaatan adalah kemuliaan.
I. DARI JAM'IYYAH MENUJU KHIDMAH
NU adalah jam'iyyah diniyyah ijtima'iyyah. Karena itu, ber-NU tidak boleh berhenti pada rasa memiliki organisasi, tetapi harus berlanjut menjadi semangat khidmah.
Kader NU semestinya tidak terus bertanya:
“Apa yang bisa saya dapatkan dari NU?”
Tetapi belajar bertanya:
“Apa yang dapat saya berikan untuk NU, umat, dan bangsa melalui NU?”
Di sinilah orientasi kaderisasi harus diarahkan:
dari mencari posisi menuju memberi kontribusi,
dari mengejar jabatan menuju menjalankan khidmah,
dari ingin dikenal menuju menghadirkan manfaat.
Jabatan dalam organisasi hanyalah sementara, sedangkan nilai khidmah dapat melampaui usia kita.
II. NU YANG BERMARTABAT DIMULAI DARI KADER YANG BERMARTABAT
Organisasi tidak berjalan sendiri. Wajah organisasi sangat ditentukan oleh perilaku orang-orang yang berada di dalamnya.
Karena itu:
NU yang bermartabat hanya dapat dibangun oleh kader-kader yang bermartabat.
Tidak cukup seorang kader hanya memiliki militansi. Militansi harus dibimbing oleh ilmu.
Tidak cukup memiliki ilmu. Ilmu harus dihiasi akhlak.
Tidak cukup memiliki akhlak pribadi. Ia harus mempunyai integritas dan amanah dalam menjalankan organisasi.
Dan tidak cukup semuanya itu bila kehadirannya belum memberikan manfaat bagi masyarakat.
III. BERMARTABAT: KARAKTER KADER NU
Kata BERMARTABAT dapat kita jadikan pengingat nilai-nilai kader NU:
B — Berilmu
Kader NU harus mempunyai tradisi belajar.
NU lahir dari rahim pesantren dan tradisi keilmuan para ulama. Karena itu, kader NU jangan sampai semangat organisasinya lebih tinggi daripada semangat belajarnya.
Berani berbicara harus disertai keberanian untuk membaca.
Berani berpendapat harus disertai kerendahan hati untuk belajar.
E — Etis dan Berakhlak
Kader NU harus menjaga adab.
Perbedaan pendapat jangan berubah menjadi permusuhan. Kritik jangan berubah menjadi penghinaan.
Kita boleh berbeda pilihan, tetapi jangan kehilangan persaudaraan.
Sebab kaderisasi NU bukan hanya melahirkan orang yang pandai berorganisasi, tetapi juga manusia yang santun dalam bersikap.
R — Responsif terhadap Zaman
Berpegang pada tradisi bukan berarti tertinggal oleh perkembangan.
Kader NU harus mampu membaca perubahan sosial, ekonomi, teknologi, media digital, dan kebutuhan generasi muda.
Prinsip yang masyhur di lingkungan NU tetap relevan:
المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح
Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.
M — Militan dalam Khidmah
Militansi NU bukan fanatisme tanpa ilmu.
Militansi adalah kesetiaan kepada nilai dan ketekunan dalam pengabdian.
Kader sejati tetap bekerja meskipun tidak selalu terlihat, tetap berkhidmah meskipun tidak memperoleh jabatan, dan tetap menjaga NU meskipun namanya tidak disebut.
A — Amanah
Organisasi akan kehilangan martabat ketika amanah berubah menjadi kepentingan.
Kader NU harus mampu menjaga amanah organisasi, amanah umat, amanah jabatan, dan amanah kepercayaan.
Jangan sampai NU menjadi besar namanya, tetapi kehilangan kepercayaan masyarakat karena perilaku sebagian kadernya.
R — Rukun dalam Perbedaan
NU memiliki kekayaan pemikiran, tradisi, dan karakter kader yang beragam.
Perbedaan adalah keniscayaan. Yang harus dijaga adalah ukhuwah.
Kader NU harus mampu membedakan antara:
berbeda dengan bermusuhan,
mengkritik dengan mencaci,
berkompetisi dengan saling menjatuhkan.
T — Tangguh dan Teguh
Kader NU harus memiliki keteguhan prinsip sekaligus keluwesan dalam bermuamalah.
Teguh menjaga Ahlussunnah wal Jama'ah, NKRI, Pancasila, persatuan bangsa, dan nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil-'alamin.
Tetapi keteguhan jangan berubah menjadi kekakuan.
A — Adaptif dan Aktif
Kader NU jangan hanya menjadi penonton perubahan.
Ia harus hadir di ruang pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, teknologi, media, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
NU masa depan memerlukan kader yang mampu merawat warisan sekaligus menciptakan terobosan.
B — Bermanfaat
Ukuran akhir seorang kader bukan seberapa tinggi posisinya, tetapi seberapa besar manfaat kehadirannya.
A — Adil
Kader harus mampu berlaku adil bahkan kepada orang yang berbeda pandangan.
Kepentingan pribadi, kelompok, dan politik sesaat tidak boleh mengalahkan kepentingan jam'iyyah dan kemaslahatan umat.
T — Tawaduk
Semakin tinggi ilmu, semakin rendah hati.
Semakin tinggi jabatan, semakin besar kesediaan melayani.
Tradisi ulama NU mengajarkan bahwa kemuliaan bukan terletak pada kemampuan membuat orang lain menghormati kita, tetapi pada kemampuan menghormati orang lain tanpa kehilangan prinsip.
IV. EMPAT TRANSFORMASI KADER NU
Kaderisasi harus menghasilkan perubahan nyata.
1. Dari anggota menjadi kader
Anggota merasa memiliki NU.
Kader merasa bertanggung jawab terhadap NU.
2. Dari kader menjadi penggerak
Kader tidak hanya hadir dalam kegiatan, tetapi mampu menghidupkan kegiatan dan menggerakkan masyarakat.
3. Dari penggerak menjadi teladan
Kader NU harus mampu berdakwah bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui perilaku dan keteladanan.
4. Dari teladan menjadi pemberi manfaat
Puncak kaderisasi adalah ketika kehadiran seorang kader dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Dengan demikian:
Kaderisasi bukan sekadar menambah jumlah kader, tetapi meningkatkan kualitas dan martabat kader.
V. JANGAN HANYA MEMBESARKAN NU, TETAPI JUGA MENJAGA MARTABAT NU
Ada satu hal yang harus selalu disadari:
Setiap kader membawa nama NU.
Ketika seorang kader berkata santun, orang melihat NU.
Ketika kader menjaga amanah, orang percaya kepada NU.
Ketika kader hadir membantu masyarakat, orang merasakan manfaat NU.
Sebaliknya, ketika kader bertindak kasar, menyalahgunakan jabatan, saling menjatuhkan, atau menjadikan organisasi hanya sebagai kendaraan kepentingan, yang terkena bukan hanya dirinya, tetapi juga marwah jam'iyyah.
Karena itu:
Mencintai NU bukan hanya membela namanya, tetapi menjaga martabatnya melalui perilaku kita.
VI. KHIDMAH SEBAGAI JALAN SPIRITUAL
Khidmah di NU jangan hanya dipandang sebagai aktivitas organisasi. Khidmah dapat menjadi bagian dari ibadah dan perjalanan spiritual, bila dilakukan dengan niat yang benar.
Ada kader yang berada di depan panggung.
Ada yang bekerja di belakang layar.
Ada yang memimpin.
Ada yang menyiapkan kursi.
Ada yang berbicara.
Ada yang diam-diam membantu.
Di hadapan manusia mungkin nilainya berbeda.
Tetapi di hadapan Allah, yang menentukan bukan di mana kita ditempatkan, melainkan seberapa ikhlas kita menjalankan amanah.
Karena itu, jangan kecewa bila tidak mendapatkan posisi.
NU bukan hanya tempat mencari kedudukan, tetapi medan untuk memperbanyak pengabdian.
VII. PENUTUP: KADER YANG DIBUTUHKAN NU MASA DEPAN
NU masa depan membutuhkan kader yang:
kuat akidahnya,
luas ilmunya,
santun akhlaknya,
jernih pikirannya,
kokoh integritasnya,
luas jejaringnya,
adaptif terhadap zamannya,
dan nyata manfaatnya.
Mari menjadi kader yang tidak hanya bangga kepada NU, tetapi membuat NU bangga memiliki kader seperti kita.
Jangan hanya bertanya:
“Apa jabatan saya di NU?”
Tetapi tanyakan:
“Apa manfaat saya bagi NU?”
Jangan hanya berpikir:
“Seberapa besar NU hari ini?”
Tetapi renungkan:
“Apa yang dapat saya lakukan agar kebesaran NU tetap terjaga martabatnya?”
Sebab pada akhirnya:
NU yang besar adalah anugerah.
NU yang kuat adalah kebutuhan.
Tetapi NU yang BERMARTABAT adalah tanggung jawab kita bersama.
PENITI — Pesan Inti
Jadilah kader yang tidak sekadar membesarkan JAM'IYYAH, tetapi juga memperluas KHIDMAH; tidak sekadar menjaga NAMA, tetapi juga menjaga MARWAH; tidak sekadar bangga menjadi warga NU, tetapi membuat NU semakin BERMARTABAT karena ilmu, akhlak, amanah, dan manfaat kita.
والله الموفق إلى أقوم الطريق
*Salam Bahagia dan Penuh Persahabatan dari al-Faqir Ahmad Rusdi*
