Masyhuri Husin
Ketua Tanfidziyah MWC NU Kecamatan Kebayoran Lama
Menjaga Obor Cinta di Era Digital: Harmoni Tradisi Maulid dalam Dekapan Nahdlatul Ulama
Di tengah gemuruh zaman dan perputaran arus digital yang begitu cepat, jiwa manusia modern acapkali terasa kering kerontang. Layar-layar gawai mungkin mampu menyambungkan mereka yang berada di ujung dunia, namun ironisnya, seringkali memutus ikatan batin dengan akar spiritualitasnya sendiri. Di titik inilah, tradisi pembacaan risalah Maulid Nabi Muhammad SAW hadir—bukan sebagai artefak masa lalu, melainkan sebagai oase sejuk yang senantiasa mengalirkan kehidupan.
Bagi Nahdlatul Ulama (NU), Maulid bukanlah sekadar ritus tahunan yang dirayakan lalu dilupakan. Ia adalah denyut nadi, sebuah kosmologi cinta yang secara cerdas dan elegan dianyam ke dalam jalinan kehidupan sosiologis masyarakat kita.
Berikut adalah pesan, kesan, dan hikmah agung di balik lestarinya tradisi Maulid di bumi Nusantara.
Melodi Kehidupan Nahdliyin: Maulid di Setiap Fase Waktu
Jika kita menelisik kearifan lokal warga Nahdliyin, pembacaan risalah Maulid—baik itu Al-Barzanji, Ad-Diba'i, Burdah, maupun Simtudduror—telah menyatu menjadi bagian integral dari setiap momen bersejarah dalam kehidupan manusia.
Tradisi ini meresonansi dari awal hingga akhir siklus kehidupan:
~Saat ruh ditiupkan: Maulid dilantunkan saat bayi masih dalam kandungan, membisikkan syahdu selawat menembus rahim sang ibu.
~Menyambut lahirnya kehidupan: Mengiringi tangis pertama sang bayi dalam Walimatut Tasmiyyah (pemberian nama) dan Aqiqah.
~Mendewasakan raga: Menjadi lantunan penyejuk dalam Walimatul Khitan.
~Mengikat janji suci: Mengiringi langkah dua insan yang menyatukan cinta dalam mahligai Pernikahan.
Apa tujuannya? Tidak lain adalah sebuah rekayasa spiritual yang sangat indah. NU bertujuan menanamkan dan menghadirkan cinta kepada Sang Nabi sejak manusia belum melihat dunia, hingga ia menua di dalamnya. Maulid menjadi "tali batin" yang memastikan bahwa setiap transisi penting kehidupan seseorang selalu disaksikan oleh cahaya kasih sayang Sayyidina Muhammad SAW.
Bukan Risalah Biasa: Menghidupkan Ruh Cinta
Secara akademis, teks Maulid mungkin terlihat sebagai susunan prosa dan puisi Arab. Namun secara spiritual, risalah Maulid bukanlah lembaran teks mati. Ia adalah ruh akan hadirnya Cinta.
Saat bait-bait Mahallul Qiyam (berdiri saat pembacaan selawat) dilantunkan, ada dimensi ruang dan waktu yang terlipat. Di momen itu, umat sedang mendedah dan membaca ulang sejarah sosok manusia paripurna, sang Uswah dan Qudwah Hasanah (suri teladan terbaik) bagi manusia sepanjang zaman. Kita tidak sedang bernostalgia tentang tokoh yang telah tiada, melainkan sedang menghadirkan "kesadaran" bahwa sifat penyantun, pemaaf, dan keagungan akhlak beliau harus terus mewujud dalam keseharian kita.
Jembatan Melintasi Era Digital
Nahdlatul Ulama sebagai sebuah Jam’iyyah (organisasi) memandang tradisi ini dengan kacamata yang sangat visioner. Ada rentang jarak ribuan kilometer dari Mekkah-Madinah ke Nusantara, dan ada jurang waktu belasan abad dari masa hidup Nabi SAW hingga era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan hiruk-pikuk digital saat ini.
Bagaimana cara agar umat akhir zaman tidak kehilangan arah?
Jawabannya adalah dengan menjaga tradisi. Maulid adalah jembatan penghubung yang kokoh. Ia merekonstruksi kesan, pesan, dan hikmah dari masa hidup Nabi yang agung, lalu menyajikannya dalam bentuk yang mudah dicerna, dirasa, dan diresapi oleh masyarakat awam sekalipun. Di tengah dunia modern yang serba rasional dan mekanis, lantunan selawat dan sejarah Nabi mengembalikan manusia pada fitrahnya sebagai makhluk yang berjiwa dan berperasaan.
Menjaga Obor Sejarah, Merawat Cahaya Peradaban
Pada akhirnya, memperingati Maulid Nabi sejatinya adalah sebuah wahana dan sarana untuk menjaga obor sejarah hidup Sang Nabi agar tidak padam ditelan pusaran zaman.
Ini adalah bentuk tanggung jawab sejarah agar suasana batin umat akhir zaman tidaklah hilang dan kosong dari sosok idola yang sejati. Di tengah krisis keteladanan global, di mana manusia seringkali tersesat mencari figur panutan, risalah Maulid terus menggemakan nama Muhammad SAW—sosok agung yang telah membebaskan manusia dari gelapnya peradaban (minadz dzulumati), menuju cahaya yang terang benderang (ilan nuur).
Semoga kita semua, dalam setiap helaan napas dan langkah di dunia yang fana ini, senantiasa terpercik cahaya syafaatnya. Shollu 'Alan Nabi Muhammad!
