MEMBUMIKAN QONUN ASASI NU, MERAWAT JAM’IYYAH NU DI ABAD KEDUA

September 04, 2026 Oleh PCNU Jaksel Masyhuri Husin, Opini,


Oleh: H. Masyhuri Husin
(MWC NU Kebayoran Lama)

Di bawah naungan langit sejarah yang membentang melintasi satu abad perjalanan, perhelatan akbar Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama telah paripurna melabuhkan nakhoda baru bagi bahtera raksasa umat ini. Terpilihnya KH. Miftahul Akhyar sebagai Rois Aam dan KH. Abdul Hakim Mahfudz—sang cicit kandung dari pendiri agung, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari—sebagai Ketua Tanfidziyyah, bukanlah sekadar suksesi kepemimpinan struktural biasa. Ini adalah sebuah takdir historis yang mempertautkan kembali denyut nadi kepemimpinan kontemporer dengan cetak biru (blueprint) keorganisasian yang ditenun dengan penuh kearifan seabad silam.
Satu abad yang lalu, tepatnya dalam lembaran monumental Qonun Asasi serta risalah pendukungnya, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari telah meletakkan fondasi teologis, sosiologis, dan moral yang maha kokoh. Secara akademik dan historis, Qonun Asasi yang dirumuskan mengiringi kelahiran Nahdlatul Ulama pada 16 Rajab 1344 H bertepatan dengan 31 Januari 1926 M, bukanlah teks administratif semata. Ia adalah manifesto kebangsaan dan keumatan yang memadukan secara harmonis antara akidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), semangat ukhuwah, serta panduan etik berorganisasi. Data historis dan sosiologis membuktikan bahwa risalah tersebut diciptakan untuk merajut kembali serpihan-serpihan umat yang tercerai-berai oleh kolonialisme, sekaligus membentengi tradisi keilmuan pesantren agar tetap relevan menatap zaman.
Membumikan Qonun Asasi di abad kedua NU berarti menghidupkan kembali roh, jiwa, dan substansi dari teks-teks monumental tersebut ke dalam denyut kebijakan nyata hari ini. Kepemimpinan duet KH. Miftahul Akhyar dan KH. Abdul Hakim Mahfudz memikul amanah historis yang amat mulia: menjadikan warisan pemikiran Hadratussyaikh sebagai jangkar pengikat seluruh stakeholder NU. Dari tingkat Pengurus Besar hingga ranting-ranting di pelosok desa, dari bilik sunyi pesantren hingga ruang-ruang birokrasi dan digital modern, ruh Qonun Asasi harus bertransformasi menjadi kompas moral yang menuntun setiap langkah pengabdian.
Nahdlatul Ulama bukanlah milik segelintir elite, melainkan rumah besar umat Islam Indonesia yang berakar kuat pada tradisi kerakyatan (populis). Dalam konstelasi sosial-demografis mutakhir, di mana jutaan nahdliyin menggantungkan harapan pada kualitas pelayanan jam'iyyah, kerja-kerja nyata yang berdimensi maslahat dan bermartabat adalah sebuah keniscayaan mutlak. Angka-angka statistik keumatan, mulai dari indeks pembangunan manusia, pemerataan literasi keagamaan, penguatan ekonomi umat berbasis kemandirian, hingga mitigasi krisis sosial, harus dijawab melalui kerja struktural yang berpijak teguh pada nilai-nilai dasar Qonun Asasi.
Ketika nakhoda baru menatap horizon lima tahun ke depan, dinamika global tentu membawa gelombang tantangan yang tidak ringan. Namun, dengan merawat jam'iyyah melalui kemurnian sanad pemikiran, keteguhan moral, dan solidaritas keorganisasian yang solid, Nahdlatul Ulama akan senantiasa kokoh berdiri. Ia tidak hanya menjadi penjaga pilar keindonesiaan yang merawat harmoni dalam keberagaman, tetapi juga bertransformasi menjadi mercusuar peradaban dunia yang menyebarkan kasih sayang semesta. Menghidupkan risalah agung ini di abad kedua adalah ikhtiar abadi agar kapal besar NU terus berlayar megah, membawa keselamatan, kemuliaan, dan kemaslahatan bagi umat manusia di bumi pertiwi maupun kancah global.
Share:

Artikel Terkait

Kontak Kami

Kantor PCNU Jakarta Selatan

Jl. Pangeran Antasari No.57, RT.12/RW.13,
Cilandak Bar., Kec. Cilandak,
Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12430

Telepon

(021) 745-6789

Email

info@pcnujaksel.or.id

Jam Kantor

Senin - Kamis: 08:00 - 16:00 WIB

Jumat: 08:00 - 15:30 WIB

Sabtu - Minggu: Libur

SK PBNU Nomor: 621/PB.01/A.II.01.45/99/07/2026
Masa Khidmat 2026-2031

Kirim Pesan